Di pelosok Pamijahan, Bogor, ada sebuah kampung yang bernapas dalam dua irama: kedisiplinan ala TNI dan kesakralan tradisi Sunda. Ini adalah Kampung Lokapurna, di mana para veteran—yang dulu berjuang di medan tempur—kini memimpin “pertempuran” baru: melestarikan debus, pencak silat, dan sedekah bumi dari ancaman punah.

Di bawah komando Abah H. Daden (80), sesepuh sekaligus mantan prajurit, kampung ini telah bertransformasi menjadi benteng budaya hidup. “Kami dulu memegang senjata untuk negara. Sekarang, senjata kami adalah budaya,” ujar Abah Daden dengan suara berwibawa. Visinya kini diteruskan oleh putranya, M. Darul Dinar (45), yang berperan sebagai panglima lapangan—mengorganisir latihan, ritual, dan menyambut tamu dari seluruh penjuru.

Front Pertahanan Budaya: Dari Debus Hingga Sedekah Bumi
Lokapurna bukan sekadar kampung biasa. Di sini, gelora kedisiplinan para veteran menyatu dengan spiritualitas tradisi:
- Debus yang mistis, di mana tubuh menjadi “senjata” yang kebal,
- Pencak Silat yang mengajarkan nilai kehormatan dan ketangkasan,
- Sedekah Bumi (Hajat Bumi) sebagai puncak rasa syukur kepada alam semesta,
- Dan berbagai seni lainnya seperti pantun budi dan dogdog lojor.
Ritual-ritual ini bukan tontonan semata, melainkan bagian dari identitas yang dijalani dengan penuh keyakinan.

Misi Diplomasi Budaya: Ketertarikan Mr. Mike dari Kanada
Keunikan Lokapurna ternyata memancar hingga ke mancanegara. Mr. Mike (52), seorang peneliti budaya dari Kanada, sengaja datang untuk menyelami pengalaman autentik yang langka.
“Saya kagum. Di sini, budaya bukan dijadikan komoditas, tetapi dihidupi. Para veteran adalah penjaganya—itu sangat powerful,” ungkap Mike, yang mengaku terpesona dengan kesungguhan masyarakat menjalankan tradisi. Kunjungannya membuktikan bahwa ketertarikan terhadap akar budaya Nusantara yang asli masih sangat tinggi.

Strategi Masa Depan: Melestarikan dengan Cara Modern
Darul Dinar sadar, menjaga tradisi butuh strategi baru. Dengan semangat penerus, ia mulai memperkenalkan wisata budaya terbatas dan mendokumentasikan setiap ritual. “Kami ingin anak muda paham, bahwa melestarikan budaya itu sama gagahnya dengan membela negara,” katanya.
Dukungan pemerintah setempat juga mulai mengalir, melihat potensi Lokapurna sebagai desa budaya berkelanjutan yang unik.

Penutup: Lokapurna, Sebuah Teladan
Kampung Lokapurna adalah bukti hidup bahwa nasionalisme dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan. Di tangan para veteran dan generasi penerusnya, setiap helaan napas debus, setiap gerakan silat, dan setiap doa dalam sedekah bumi, adalah bentuk lain dari cinta tanah air.
Mereka telah beralih senjata, tetapi semangat berjuang tak pernah padam. Kini, medan pertempurannya adalah waktu, dan misinya adalah memastikan warisan ini tetap berdiri tegak untuk generasi mendatang.
Lokapurna bukan sekadar tempat. Ia adalah perjuangan yang terwarisi.


